Gelap mulai menyapa pagi. Angin sejak malam tak kunjung berhenti berhembus, seperti napas manusia yang tak henti. Aku hanya menatap jendela dan jam dinding yang sedari malam hanya kedua benda itu yang aku perhatikan. Kenapa? Karena pada hujan malam sebelum malam ini, ku bahkan tak sempat merasakan dinginnya udara saat hujan. Saat itu kau ada! Saat itu kau belum pergi.
Malam ini, tak hanya cuaca yang teramat dingin, hati ku lebih dingin sampai kantuk tak mempengaruhi rasa ingin tidurku. Aku terjaga semalaman, menunggu. Siapa yang tau, kau pun mungkin terjaga juga mengingatku pada malam hujan seperti hari-hari sebelum ini. Aku tak sedikitpun memandang layar smartphone ku. Karena aku sadar, kau sudah bukan milikku. Berharappun ku tak berhak. Tapi benar kalau aku menunggu.
Selimut tebal ini enggan ku lepas, padahal sudah waktunya ku bersiap meinggalkan lamunan malam hingga pagiku. Aku ada jadwal senam pagi ini, hari ini sabtu, aku liburn bekerja. Tidak, ku bukan pekerja sebenarnya. Aku hanya wanita dewasa yang menajalani usaha kecil yang bermula dari seseorang dimasalalu.
"ah aku malas mandi" ucapan rutinku setiap bertemu pagi
"biya, kamu ga mandi? udah jam berapa ini? katanya mau senam" ada wanita lain dirumah selain aku yaitu ibu yang ga pernah bosan ngomel tiap pagi karna anaknya ini
"iya bu, biya baru mau mandi" dan ............ sepupuh menit kemudian "bu, biya udah siap ayo berangkat"
Ibu paham banget tabiatku yang malas mandi, jadi liat aku masuk kamar mandi dipagi hari aja udah bisa bersyukur banget. Ternyata syukur itu sederhana.
&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&
"pagi biya, sehat? lama nih ga keliatan?" sapa para ibu-ibu tukang gosip yang suka seliweran depan rumah karena jarang liat aku dirumah.
"hehe iya bu, biya sibuk beberapa minggu ini, sekarang karna agak santai makanya biya bisa ikut senam"
Usahaku memang masih kecil, tapi lumayan menyibukkan. Terkadang tak telalu memaksakku harus ikut turut serta bekerja, tapi akhir-akhir ini semangat kerjaku menggelora, seperti anak lulusan SMA yang baru diterima kerja oleh perusahaan ternama. Bedanya, tak selalu aku bahagia. Aku hanya memaksa otakku untuk berfikir. memaksa hati ku tenang.
Dadaku semakin sesak setiap harinya, hatikku semakin patah setiap malamnya. Jika bisa, aku ingin bekerja terus, apapun. Aku tak ingin bertemu gelap, aku tak suka berjumpa akhir pekan. Dari jaman aku sekolah, saat akhir pekan aku memang selalu tak tidur sampai pagi, tidurku pagi ke petang. Saat akhir pekan ku berakhir waktu tidurku kembali normal. Tapi, dewasa tak menjadikanku lebih mampu. Bahkan waktu tidur saja tak bisa ku urus dengan baik.
"bu, biya capek, biya istirahat minum dulu ya" izinku, karna mulai malas
"biya, kok udah istirahat aja? baru juga beberapa menit. Kamu kan masih muda"
"emang yang muda ga boleh capek, aneh nih si ibu" celetukku dalam hati sambil senyum ke si ibu. Aku tidak sekeji itu melawan perkataan orang tua dengan tidak sopan.
"biya, akhir-akhir ini sibuk ngapain? kerja apa pacaran? ibu udah lama tuh ga liat laki-laki yang biasa antar biya pulang" dengan santainya si ibu bertanya. Bukan salah dia bertanya sih, aku aja yang sensi kemudian pergi tanpa menjawab.
"bu, biya duluan ya, bilangin sama ibu biya, kalau biya sakit perut"
&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&
Next? ......................................................................................................................................................
Malam ini, tak hanya cuaca yang teramat dingin, hati ku lebih dingin sampai kantuk tak mempengaruhi rasa ingin tidurku. Aku terjaga semalaman, menunggu. Siapa yang tau, kau pun mungkin terjaga juga mengingatku pada malam hujan seperti hari-hari sebelum ini. Aku tak sedikitpun memandang layar smartphone ku. Karena aku sadar, kau sudah bukan milikku. Berharappun ku tak berhak. Tapi benar kalau aku menunggu.
Selimut tebal ini enggan ku lepas, padahal sudah waktunya ku bersiap meinggalkan lamunan malam hingga pagiku. Aku ada jadwal senam pagi ini, hari ini sabtu, aku liburn bekerja. Tidak, ku bukan pekerja sebenarnya. Aku hanya wanita dewasa yang menajalani usaha kecil yang bermula dari seseorang dimasalalu.
"ah aku malas mandi" ucapan rutinku setiap bertemu pagi
"biya, kamu ga mandi? udah jam berapa ini? katanya mau senam" ada wanita lain dirumah selain aku yaitu ibu yang ga pernah bosan ngomel tiap pagi karna anaknya ini
"iya bu, biya baru mau mandi" dan ............ sepupuh menit kemudian "bu, biya udah siap ayo berangkat"
Ibu paham banget tabiatku yang malas mandi, jadi liat aku masuk kamar mandi dipagi hari aja udah bisa bersyukur banget. Ternyata syukur itu sederhana.
&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&
"pagi biya, sehat? lama nih ga keliatan?" sapa para ibu-ibu tukang gosip yang suka seliweran depan rumah karena jarang liat aku dirumah.
"hehe iya bu, biya sibuk beberapa minggu ini, sekarang karna agak santai makanya biya bisa ikut senam"
Usahaku memang masih kecil, tapi lumayan menyibukkan. Terkadang tak telalu memaksakku harus ikut turut serta bekerja, tapi akhir-akhir ini semangat kerjaku menggelora, seperti anak lulusan SMA yang baru diterima kerja oleh perusahaan ternama. Bedanya, tak selalu aku bahagia. Aku hanya memaksa otakku untuk berfikir. memaksa hati ku tenang.
Dadaku semakin sesak setiap harinya, hatikku semakin patah setiap malamnya. Jika bisa, aku ingin bekerja terus, apapun. Aku tak ingin bertemu gelap, aku tak suka berjumpa akhir pekan. Dari jaman aku sekolah, saat akhir pekan aku memang selalu tak tidur sampai pagi, tidurku pagi ke petang. Saat akhir pekan ku berakhir waktu tidurku kembali normal. Tapi, dewasa tak menjadikanku lebih mampu. Bahkan waktu tidur saja tak bisa ku urus dengan baik.
"bu, biya capek, biya istirahat minum dulu ya" izinku, karna mulai malas
"biya, kok udah istirahat aja? baru juga beberapa menit. Kamu kan masih muda"
"emang yang muda ga boleh capek, aneh nih si ibu" celetukku dalam hati sambil senyum ke si ibu. Aku tidak sekeji itu melawan perkataan orang tua dengan tidak sopan.
"biya, akhir-akhir ini sibuk ngapain? kerja apa pacaran? ibu udah lama tuh ga liat laki-laki yang biasa antar biya pulang" dengan santainya si ibu bertanya. Bukan salah dia bertanya sih, aku aja yang sensi kemudian pergi tanpa menjawab.
"bu, biya duluan ya, bilangin sama ibu biya, kalau biya sakit perut"
&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&
Next? ......................................................................................................................................................